Ketersediaan : Tersedia

DARI ALLAH MENUJU ALLAH

    Deskripsi Singkat

    Milik sufi bukan sekadar huruf dan tinta, tapi hati putih penaka salju. Milik cendekiawan adalah jejak-jejak pena. Apakah milik sufi? Jejak-jejak kaki. Rumi bukanlah seorang penulis ‘irfân seperti Ibn ‘Arabi—yang menulis puluhan jilid buku. Karya utama Rumi adalah Matsnawi, kumpulan puisi, yang darinya kutipan-kutipan dalam buku ini diambil. Namun, justru… Baca Selengkapnya...

    Rp 49.000 Rp 41.650
    -
    +

    Milik sufi bukan sekadar huruf dan tinta,
    tapi hati putih penaka salju.
    Milik cendekiawan adalah
    jejak-jejak pena.
    Apakah milik sufi?
    Jejak-jejak kaki.


    Rumi bukanlah seorang penulis ‘irfân seperti Ibn ‘Arabi—yang menulis puluhan jilid buku. Karya utama Rumi adalah Matsnawi, kumpulan puisi, yang darinya kutipan-kutipan dalam buku ini diambil. Namun, justru karena efisiensi dari medium puisi ini, Rumi bisa mengungkapkan apa yang diungkapkan dalam berjilid-jilid buku oleh seorang arif seperti Ibn ‘Arabi, ke dalam puisi-puisi yang relatif jauh lebih pendek.

    Dalam buku ini, Haidar Bagir, menjelaskan secara ringkas, populer, dan sistematis prinsip-prinsip tasawuf melalui keindahan puisi-puisi Rumi.

     

    Tentang Haidar Bagir

    Haidar Bagir

    Haidar Bagir lahir di Solo, 20 Februari 1957. Ia meraih S-1 dari Jurusan Teknologi Industri ITB (1982), S-2 dari Pusat Studi Timur Tengah, Harvard University, AS (1992), dan S-3 dari Jurusan Filsafat Universitas Indonesia (UI) dengan riset selama setahun (2000-2001) di Departemen Sejarah dan Filsafat Sains, Indiana University, Bloomington, AS.

    Nama penerima tiga beasiswa Fulbright ini selama beberapa tahun berturut-turut masuk dalam daftar 500 Most Influential Muslims (Th e Royal Islamic Strategic Studies Centre, 2011).

    Selain sibuk mengurus yayasan dan menjadi presiden direktur sebuah rumah penerbitan, dia telah menulis buku bestseller: Buku Saku Tasawuf; Buku Saku Filsafat Islam; Buat Apa Shalat; Surga di Dunia, Surga di Akhirat; dan beberapa judul buku lain. Ia juga masih aktif memberikan ceramah keagamaan dan pendidikan di sejumlah instansi; menjadi pembicara di sejumlah seminar keilmuan, khususnya kajian tentang filsafat, tasawuf, dan pemikiran Islam kontemporer.

    Beberapa tahun terakhir ini, ia juga mengasuh sebuah acara radio mingguan bertajuk Lite is Beautiful di Lite FM.

    @Haidar_Bagir
    www.haidarbagir.com

     




    Keunggulan Buku

    - Ditulis oleh ahli di bidang tasawuf, Dr. Haidar Bagir.
    - Bahasa mudah dipahami pembaca.
     

    Resensi

    Nukilan Buku

    Kata Pengantar

    Awal kisah pembuatan buku ini bermula dari keluhan beberapa pembaca buku saya bahwa mereka kesulitan memahami cuplikan-cuplikan puisi Rumi yang termuat dalam dua buku saya, Belajar Hidup dari Rumi dan Mereguk Cinta Rumi. Sebenarnya, saya sudah menyertakan semacam syarah ringkas atas cuplikan-cuplikan puisi tersebut. Memang sangat ringkas, karena keengganan saya untuk terlalu jauh meng-“intervensi” keindahan dan dampak puisi-puisi Rumi, yang justru mendapatkan kekuatan dari keringkasan dan efisiensinya. Kebetulan keluhan yang terakhir saya terima mampir di lini-masa akun Twitter saya di hari-hari menjelang bulan Ramadhan tahun 2018 ini. Maka, tanpa berpikir panjang, saya janjikan untuk membuat seri video Youtube untuk mensyarah puisi-puisi Rumi tersebut, paling tidak sebagian darinya.

    Tibalah malam hari 1 Ramadhan. Nyaris tanpa persiapan, saya minta beberapa orang anggota tim Pesantren Virtual Nurul Wala–yang bahkan belum di-launch–untuk memulai taping seri Belajar Hidup dari Rumi itu. Seadanya. Hingga berlangsung 31 kali sampai hari terakhir Ramadhan.

    Nah, ketika mau mulai, saya pun berpikir, bagaimana cara memilih hanya sekitar 30-an cuplikan puisi Rumi dari ratusan yang ada di dalam buku Belajar Hidup dari Rumi? Lebih-lebih, menjadikan syarah atasnya pintu gerbang untuk memampukan pembaca memahami puisi-puisi Rumi secara keseluruhan. Maka, saya pun memulai dari puisi pertama yang termuat dalam Matsnawi Rumi, yang kebetulan juga saya muat sebagai cuplikan puisi pertama dalam buku saya tersebut. Yakni, puisi tentang nay (seruling). Dan bukan kebetulan jika puisi tersebut menjadi pembuka Matsnawi, karena kandungannya memang tentang kerinduan manusia untuk kembali kepada Sumber-nya, Tuhan. Kerinduan itu adalah dorongan awal bagi perjalanan kembalinya kepada Dia. Itulah perjalanan tasawuf, itulah suluk. Dari situ saya mendapatkan gagasan untuk menjadikan kajian tentang perjalanan tasawuf sebagai benang merah syarah saya atas cuplikan-cuplikan puisi Rumi tersebut. Dan dengan cara itu, saya pun memilih secara berturutan cuplikan puisi Rumi yang dapat menggambarkan tahapan-tahapan dalam perjalanan tasawuf tersebut.

    Maka, jadilah 30 plus 1 episode pembukaan seri Belajar Tasawuf dari Rumi di Youtube. Meski hampir-hampir tidak dipromosikan, sambutan rekan-rekan yang sempat memirsanya sangatlah baik. Mereka merasa bukan saja bisa memahami cuplikan-cuplikan puisi Rumi yang disyarah dalam seri video tersebut. Hal ini lebih jauh memantik gagasan baru untuk mentranskrip seri ini, menyunting, dan menerbitkannya sebagai buku. Beruntunglah saya memiliki seorang asisten yang paham tema yang dibahas dan cakap dalam menyunting. Setelah selesai ditranskrip oleh tim penerbit, Saudara Azam Bahtiar–asisten saya itu—menyuntingnya: menyesuaikan dari bahasa lisan ke bahasa tulis, dan menghilangkan bagian-bagian yang terulang. Proses berjalan cepat, antara lain karena saya pun ingin tema berat yang dibahas dalam buku ini tetap tersampaikan dengan bahasa populer.

    Maka, sampailah buku yang saya juduli Dari Allah Menuju Allah: Belajar Tasawuf dari Rumi ini ke tangan para pembaca yang budiman. Saya tak meminta kritik (meski tentu amat terbuka jika ada kritik). Saya hanya berharap, buku sederhana ini bisa menjadi kendaraan saya dalam menyajikan ajaran ‘irfân dalam bentuk bacaan yang bisa dinikmati–setidaknya tidak membosankan. Terima kasih atas kepercayaan pembaca. Mohon maaf jika ada kekurangan di sana-sini. Semoga, dalam segala keterbatasannya, buku ini dapat menebarkan manfaat kepada para pembacanya. Dan, untuk itu, saya bersyukur kepada Allah Swt. atas segala karunia, hidayah, dan ‘inâyah-Nya yang memungkinkan buku ini lahir ke dunia. Alhamdulil-Lâhi Rabbil ‘âlamîn ….[]


    Pendahuluan
    Matsnawi memang adalah sekumpulan syair. Tapi, apakah ia hanya sekumpulan puisi–betapa pun amat indah dan penuh makna–yang terserak tanpa ada suatu tema yang mengikat, kecuali kesejajaran-kesejajaran atau, mungkin, pengulangan/pengungkapan kembali dalam bahasa berbeda (parafrase) di sana-sini? Sebagian ahli, bahkan di masa Rumi masih hidup mengeluhkan hal ini. Seperti dikutip Chittick dalam The Sufi Doctrine of Rumi, mereka seolah-olah ingin mengatakan bahwa Matsnawi adalah sebuah buku syair biasa, dan bahwa di dalamnya “tak ada diskusi-diskusi metafisis dan misteri-misteri tingkat tinggi”. Menjawab itu, Rumi menyindir bahwa “seperti ketika Al-Quran diturunkan dulu, ia diremehkan sebagai sekadar legenda-legenda dan dongeng-dongeng. Mereka mengatakan, tak ada di dalamnya hasil-hasil penyelidikan dan penelitian yang luhur …”.

    Memang, sependek pengetahuan saya, tak perlu seorang pembaca serius menjadi peneliti hanya untuk tahu bahwa Matsnawi adalah suatu buku pelajaran tentang tasawuf, bahkan tentang ‘irfân (tasawuf filosofis) yang komprehensif. Tak harus pula kita berpandangan sejauh Seyed Ghahreman Safavi  yang berkeyakinan bahwa Matsnawi memiliki struktur tersembunyi yang khas dan sophisticated. Ya. Meski boleh jadi Rumi tak menguraikan dan mendefinisikan stasiun-stasiun dan keadaan-keadaan yang menerpa seseorang yang berjalan di jalan menuju Tuhan, cukup seperti Chittick kita merasakan adanya kesinambungan dalam hal tema(-tema) pokok yang secara konsisten menjalari seluruh Matsnawi–khususnya tema-tema menyangkut Tuhan, alam, dan manusia.

    Memang, dalam banyak bagian, Rumi menyatakan dengan jelas bahwa tujuannya terutama bukan untuk menjelaskan, melainkan untuk membimbing. Tujuannya dalam menulis puisi dan berbicara kepada pendengarnya bukanlah untuk menyajikan uraian ilmiah tentang aspek-aspek dari ajaran Islam. Juga, bukan untuk menjelaskan kepada mereka segala hal tentang sufisme. Dia hanya mau membuat mereka menyadari bahwa sebagai manusia, mereka terikat oleh fitrah mereka untuk kembali kepada Tuhan dan mengabdikan diri mereka sepenuhnya kepada-Nya.

    Benar juga, menurut Seyyed Hossein Nasr dalam pengantarnya untuk The Sufi Doctrine of Rumi, bahwa “Rumi tidak menulis eksposisi metafisis langsung seperti yang dilakukan seorang Ibn 'Arabi atau Shadr al-Din al-Qunawi. “Tapi”, jangan salah, “Rumi adalah seorang ahli metafisika tingkat tinggi dan menggarap hampir semua pertanyaan gnostik dan metafisik, betapa pun sering dalam bentuk perumpamaan, narasi, atau bentuk lain dari perangkat sastra dan simbol puitis”.

    Lalu, dengan kerangka apa kita bisa memahami ajaran tasawuf Rumi secara sedikit-banyak sistematis? Sudah lazim di Dunia Islam, sejak abad keempat belas dan seterusnya, bahwa sebagian besar komentator Rumi sangat bergantung pada pemikiran Ibn 'Arabi untuk memberikan struktur pada tulisan-tulisan Rumi. Inilah juga cara yang dipakai oleh Chittick dalam The Sufi Doctrine of Rumi. Memang, menjelang abad kesembilan belas, mazhab wahdah al-wujud Ibn ‘Arabi ini telah memberikan arah untuk sebagian besar diskusi tentang kerangka teoretis sufisme.

    Seperti Chittick, saya percaya bahwa membiarkan Rumi berbicara sendiri–sebagaimana dilakukan Chittick dengan bukunya yang lebih belakangan, The Sufi Path of Love–tetap diperlukan. Namun, memahami Rumi dalam kerangka wahdah al-wujud juga tidak terhindarkan. Dan ini bukannya tanpa dasar yang kuat. Selain kemiripan-kemiripan yang begitu melimpah di antara keduanya, Rumi hidup di masa-masa yang dekat dengan masa hidup Ibn ‘Arabi. Keduanya diduga pernah bertemu di Konya. Yang jauh lebih penting dari itu, Rumi adalah sahabat karib Shadr al-Din al-Qunawi, murid dan anak tiri Ibn ‘Arabi sekaligus penerus langsung dan paling penting Ibn ‘Arabi. Tak sulit diduga, keduanya menyerap juga semangat zaman (zeitgeist) yang sama.

    Pada awalnya, dalam syarah atas cuplikan-cuplikan puisi Rumi yang akhirnya terekam dalam buku ini, saya juga tidak secara khusus merencanakan untuk melihat pemikiran Rumi dari sudut pandang Ibn ‘Arabi. Tapi, mungkin juga karena keterbatasan wawasan saya tentang Rumi, secara tak terhindarkan penafsiran saya begitu saja didominasi oleh teori-teori ‘irfân Akbarian itu. Memang dengan itu kemudian makna puisi-puisi Rumi terasa lebih terang-benderang. Belakangan, saya dapati ada beberapa kesejajaran antara buku saya ini dengan The Sufi Doctrine of Rumi, meski jangkauan buku ini sedikit lebih luas–dalam makna, lebih global–dari buku yang disebut terdahulu. Maka, selain berbicara tentang concern utama Rumi tentangTuhan, alam, dan manusia dari sudut pandang ‘irfân, buku ini juga menyoroti pemikiran Rumi tentang cinta sebagai satu-satunya jalan besar menuju Allah, serta metode-metode teknis yang bisa memandu kita melewati (bersuluk) di jalan itu.

    Maka, saya hanya bisa menganjurkan agar para pembaca tak merasa cukup dengan membaca buku ini untuk memahami pemikiran-pemikiran Rumi. Ada sedikitnya dua buku karya Schimmel di samping banyak buku lain tentang Rumi yang penting dibaca oleh peminat serius pemikiran-pemikiran Rumi. Tapi yang sangat penting, Anda–para pembaca yang budiman–perlu sedikitnya membaca The Sufi Path of Love karya Chittick, yang mencoba lebih banyak membiarkan Rumi berbicara sendiri. Mudah-mudahan dengan itu, buku ini akan bisa memberikan manfaat lebih banyak dan keterbatasan-keterbatasannya bisa diatasi.[]



     

    Beri ulasan produk ini

    Spesifikasi Produk

    SKU NA-195
    ISBN 978-602-385-608-4
    Berat 200 Gram
    Dimensi (P/L/T) 12 Cm / 18 Cm/ 0 Cm
    Halaman 252
    Jenis Cover Soft Cover

    Produk Haidar Bagir

















    Produk Rekomendasi